Ada seorang Mandailing (bukan Batak, Mandailing adalah suku lain di
daerah Selatan Sumut) merantau ke Jakarta, karena tidak berhasil
mendapat kerja kantoran akhirnya si Mandailing ini berwirasta alias
berjualan apa saja di pasar Manggarai, hari ini jualan sayur, besok
jualan barang bekas, pokoknya apa saja yang memberikan untung.
Suatu hari si Mandailing ini berjualan pepaya, tengah hari datang
seorang pembeli, kebetulan seorang Jawa pembantu rumah tangga yang baru
datang di Jakarta, bahasa Indonesia-nya belum lancar. Sesuai instruksi
majikan, si Jawa mencoba merasakan apakah pepaya yang dijual sudah masak
atau belum. Dengan halus si Mandailing memperingati : “zangan
keras-keras mas, supaya tidak penyok” (dengan logat Mandailing tentunya
yang mirip dengan logat Batak). Setelah yakin bahwa pepaya yang mau
dibeli sudah matang, si Jawa bertanya: “piro siji?”, si Mandailing heran
dan tidak mengerti dan dia menjawab: “tidak keras mas ... lunak kok,
coba lagi” (pir -dari piro- dalam bahasa Mandailing artinya keras).
“Ya ..... piro siji?”, si Jawa bertanya lagi, mulai keheranan.
“Tidak keras mas .... coba lagi”, si Mandailing menjelaskan lagi dengan nada mulai meninggi.
“Lha iya ...... piro?”, si Jawa bertanya lagi, tambah heran.
Misunderstanding terus berlanjut, si Mandailing makin marah dan si Jawa
makin heran. Akhirnya si Mandailing bilang : “sudah kubilan lunak ...
keras (pir) kau bilang .... lihat ini .....”, si Mandailing menonjok
pepayanya sampai hancur.
“Dasar zawa .... sekarang kau mau apa?!”, tantang si Mandailing. Si Jawa kita terpaksa lari terbirit-birit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar